Hari Minggu 24 Mei kemarin, muak setelah berminggu-minggu main kejar-kejaran dengan garis-garis mati, saya menerima ajakan seorang teman baik dan adiknya untuk nonton my bloody valentine. Sebenernya dari judulnya aja saya curiga ini hanya salah satu film norak yang penuh wanita bule menjerit-jerit lari-larian. Tapi saking udah sumpek banget di rumah, jadilah Minggu siang itu saya duduk manis dalam bioskop mengenakan kacamuka 3D bersama kakak beradik blood fetish, menyaksikan rentetan gambar yang tentu saja penuh darah (judulnya aja my bloody valentine gitu lho). hahaha.
Sepanjang film, teman saya yang satu datar banget mukanya sambil sesekali mengutuk: tai! disensor yah! ketika adegan di layar hanya menampilkan cipratan darah tanpa memperlihatkan frame sebelumnya yang menunjukkan darimana darah itu berasal. Yang satu lagi sesekali bilang anjing! lalu tertawa-tawa setiap kali si pembunuh mengayunkan pickax nya dan membelah wajah seseorang. Beberapa kali saya tersentak kaget ketika si pembunuh melemparkan kapaknya ke depan (hail 3D effect!) Yah tapi untungnya saya juga bukan tipe cewek yang jejeritan sambil menutupi seluruh muka dengan tangan sih kalo nonton pilem horor...hehehe jadi lumayan cocok lah...tiga orang absurd menonton pilem-yang-sebenarnya-basi-abis-kalo-gak-ada-efek-3D nya itu di hari Minggu siang yang mendung.
Selesai nonton, Wima, si adik yang ketawa-tawa sepanjang film, langsung pulang. Sementara saya dan Diaz, si Mr. Asshole sekaligus teman baik yang pernah saya ceritakan di jurnal sebelumnya, menuju foodcourt untuk makan sore (laper banget bo soalnya filmnya nanggung jam 12.45 siang). Setelah makan, kami berencana menghabiskan minggu sore dengan ngupi-ngupi sambil mengobrol santai. Kenyataannya, saya pesan teh hangat rasa stroberi dan Diaz minum coklat panas dengan mint, sambil mengobrol tentang masa depan, tentang advertising yang menurut Diaz adalah new era of slavery (hahahah), tentang flower generation dan LSD, tentang invasi alien, bahkan tentang surga dan neraka (berat euy!!) hahaha.
3 jam lebih Diaz berusaha mencuci otak saya dengan teori-teori konspirasinya
quoting Diaz : Satu hal yang gw pelajari juga dari sini, you gotta know what you want first, kalo udah try to believe in it so much, then energy2 yang ada disekitar lo akan make it happen for you! Lo harus bikin blueprint diri lo sendiri cil, mungkin lo banyak maunya, tapi lo HARUS cari cil, otherwise lo bakal WASTED in this world! Mungkin lo baru nemu 2 tahun lagi or 5 tahun lagi or even 10 tahun lagi, tapi kalo lo ga cari, ya ga nemu2. Gw aja baru nemu jalannya yang jelas di umur 34, tapi sebenernya dah tau waktu gw masih teenager, cuman ga di arahin kesitu aja...so it's not too late for you to find your path!
.....(uh, dalem)
Pembicaraan 3 jam diakhiri oleh tatapan sinis mbak-mbak waiter yang pura-pura bertanya apakah kami mau memesan sesuatu yang lain...hehehehe. Setelah itu kami pulang dengan busway yang berlawanan arah. Saya menenteng cd The Orb yang dipinjemin Diaz, dan Diaz menenteng dvd bajakan Achilles and the tortoise dari saya.
Dalam perjalanan pulang di busway, saya bertekad untuk bikin blueprint diri saya sendiri. Moga-moga berhasil yah...rasanya jadi ngerti kesulitan para klien bikin brief selama ini....huehehehe. Dan dalam perjalanan pulang itu juga saya baru ingat kalo tadi kami nonton my bloody valentine. Emang dasar film biasa aja. Gak berkesan sama sekali 2 jam nonton! hahaha!
Devious Comments
--
--
--
"You can get old, fat, gray, grumpy, and curvy. But don't lose your smile." A Mighty Heart
--
- cecil & cecil (dumb and dumber
--
- cecil & cecil (dumb and dumber
--
- cecil & cecil (dumb and dumber
--
--
- cecil & cecil (dumb and dumber
--
Previous Page12Next Page